Membaca Prof Nietzsche dan Prof Lizar (Bagian 2)


"Prawacana" - "Pengantar"


Prof. Lizar
Apakah beda "Pengantar" dalam Perkembangan Sektor Jasa Finansial dengan "Prawacana" di Zarathustra? Pertanyaan yang membawa kita kepada hal-hal yang menjadi perhatian Nietzsche dan Lizar. Pengertian-pengertian lama itu datang lagi: ekonomi lain dengan filsafat, walau filsafat yang mengalasi setiap ilmu termasuk ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi yang lebih menjurus yaitu ilmu manajemen, ruang bagi setiap kata tergurat sebagai bahasa di Pemasaran Jasa Finansial. Kata berjalan di bahasa, yang tak lain pikiran berjalan di bahasa. Seperti manusia berjalan di dunia, bahasa membawa kata ke dalam dirinya. Dunia yang berbeda itu kini mulai sama, berbeda karena ia adalah seakan-akan entitas sendiri, bahasa dan manusia, manusia dan dunia. Seperti bentuk kaki yang kecil dan bentuk kaki yang besar, atau warnanya, mungkin putih mungkin hitam. Tapi ia sama-sama kaki, atau sama-sama tangan. Adalah manusia, dengan pikirannya, yang terpusat kepada sesuatu.

BACA SEBELUMNYA:


Nietzsche memusat kepada dirinya sendiri - setiap hal-ihwal ia tarik menjadi perenungan, memikirkan. Tapi apakah Lizar tidak berbuat hal yang sama saat ia merenungi apa yang menjadi dunianya dalam tulisannya? Lima belas tahun adalah waktu baginya untuk merenungi dunianya. "Buku ini merupakan hasil karya perjalanan panjang penulis selama lima belas tahun menekuni bidang 'financial servis marketing' (pemasaran jasa finansial). Prawacana: "Ketika Zarathustra berumur tiga puluh tahun, ditinggalkannya kampung halamannya dan danau di dekatnya dan berangkatlah ia ke pegunungan. Di sana ia nikmati gairah jiwa dan kesunyiannya, selama sepuluh tahun tiada jemu-jemu ia nikmati yang demikian itu. Tapi akhirnya berubah juga hatinya - suatu hari bangun ia bersama fajar, lantas menghadap ke matahari, lalu berkata kepadanya: Wahai bintang besar! Apakah bahagiamu, jika tiada mereka yang menikmati sinarmu?"

Pengantar "Bab ini diawali dengan penjelasan tentang perkembangan sektor jasa dalam perekonomian Indonesia. Perkembangan sektor perbankan Indonesia dari masa lampau, sejak masa kolonial hingga kondisi perbankan sebelum dan setelah Paket Oktober 1988 (Pakto 88), yang menandakan perkembangan perbankan Indonesia modern, beserta dengan perkembangan perbankan pada saat krisis moneter dan perkembangan perbankan pada masa kini akan dijelaskan secara mendalam pada bab ini.

Bab ini juga akan menjelaskan dampak lingkungan eksternal yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan industri perbankan, seperti peraturan perbankan, demografi, perekonomian, pendapatan konsumen, dan teknologi informasi." Sebagai "frasa" peculiar style bisa hanya menyisakan style tanpa peculiar atau sebaliknya, bila ini, sebuah sisa dari fenomena hanyalah aneh, yang terlihat, atau janggal karena ia tidak biasa. Seolah-olah ada yang tidak biasa itu sebelum kita melihat dengan cara terbang ke atas dan mulailah segalanya menjadi tidak biasa.

Gerakan-gerakan manusia dengan tubuhnya adalah gerakan-gerakan yang baru sekali ini saja kita saksikan. Style datang lagi saat seseorang berjalan miring tapi tetap menuju sasaran, sehingga kemiringan tubuh hanyalah gaya, style, dan ia pun kita semati jadi tubuh yang unik yang membuat peculiar itu datang lagi karena mengapa, tubuh Hilarya tak seunik tubuh Trump pada bagian: bibir Trump yang tampak menjorok dan karena itu terlihat, tepatnya, terbaca, adalah bibir yang tengah mengayunkan sinisme, berbeda dengan bibir Hillary yang tampak mengembangkan rasa simpati kepada apa yang tengah ia pandangi.

Akal sehat datang dalam bentuk tanda tanya saat kedua bibir anak manusia ini kita hadiahi dengan tanda tanya: mengapa Trump yang menang bukan Hillary yang terasa simpatik? Bagaimana menjelaskan kekalahan bibir yang tak unik ini? Kita tak ingin memanjangkan soal bibir unik/tak unik ini karena kawasan lain sudah menunggu yaitu dua bentuk kehidupan yang berbeda satu dengan yang lain, kehidupan seorang filsuf dan kehidupan seorang ilmuwan (ekonomi).

Nietzsche itu Profesor, si Lizar juga, Profesor, dan keduanya sama-sama menulis di area yang tampak berbeda sebelum titik yang satu itu membawa keduanya akhirnya sama. Sama-sama menjadi corong yang menampung bunyi suara manusia. Corong yang membalik, dari sebuah rasa kesunyian bunyi manusia, ditampung oleh corong - nama corong ini mikropon - mikropon yang pecah kata Afrizal Malna, selalu, Afrizal Malna bukan yang lain karena penyair ini memang berhasil menggayakan dirinya sebagai manusia tanda, misal corong yang beranjak jari mikrofon itu, adalah sebuah tanda betapa sunyinya umat manusia dewasa ini sehingga mereka memerlukan alat pemantul yaitu mikropon (yang pecah), artinya kesunyian itu akhirnya tak tertahankan dan manusia pun mengeluarkan kesunyiannya dalam bentuk bunyi yaitu laku tubuh dan jiwanya sendiri. Nada rupanya tak bertingkah mati lagi, Iwan (Simatupang). Ia hidup sebagai irama, musik dalam kehidupan, tiap faset yang kita rambahi.



Prof. Hudan Hidayat

Peraih Anugerah Persuratan Dunia Numera 2017 Malaysia ini, merupakan pria kelahiran Yogyakarta dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Kota Curup, Provinsi Bengkulu.

Lulusan Fisipol Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jaya Baya ini juga sudah banyak menulis karya sastra. Menurutnya, menjadi pengarang (sekaligus kritikus) karena sudah jadi garis tangan. Cerpen pertamanya diterbitkan di majalah Zaman tahun 1984. Kemudian ‘Orang Sakit’ (Indonesia Tera), ‘Keluarga Gila’, ‘Lelaki Ikan’. Novelnya Tuan dan Nona Kosong. Pada tahun 2009, Profesor Hudan Hidayat sebagai peserta aktif Seminar Kepengarangan Muslimah Nusantara dan seterusnya sebagai peserta forum bandingan ‘Gitanyali dan Ayn’ yang diadakan UPSI  bersama Dr Lalitha Sinha, serta Baca Puisi Dunia Numera 2014.

Pada Seminar Internasional Melayu Islam ini, Hudan Hidayat mendapat kehormatan menyampaikan sambutan tentang Sastra Melayu Islam dalam Naungan Al Quran dengan menggarap teori Li Sajidin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membaca Prof Nietzsche dan Prof Lizar (Bagian 2)"

Post a Comment